Pemboman di Kedutaan Australia
(Tragedi Bom Kuningan)
Jakarta, 10 September 2004.
Untuk yang kesekian kali nya terjadi aksi pemboman di Indonesia. Sebuah bom meledak di jalan H.R. Rasuna Said, Kuningan, Jakarta. Tepatnya di depan Kedutaan Australia. Kekuatan bom tersebut sangat dahsyat, bahkan menurut info dari berita-berita di televisi, kekuatan bom tersebut 4x lipat dari bom yang diledakkan di JW Marriot. Dengan kekuatan yang sangat dahsyat itu, tidak hanya gedung-gedung sekitarnya saja yang menjadi korban atas ledakan tersebut (Plaza 89, Plaza Kuningan, Pasar Festifal, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Perbanas (STIE Perbanas), Departemen Koperasi dan Unit Usaha Kecil dan Menengah, RS MMC, dan lain sebagainya). Tetapi daerah seperti Monas, Pasar Minggu, Sudirman, juga merasakan getaran yang sangat hebat – yang cukup membuat panik para pekerja yang berada di gedung-gedung tingkat tinggi.
Berapa banyak orang yang tidak berdosa terluka dan terbunuh atas aksi pemboman ini? Menurut berita-berita di televisi, ada -/+ 10 korban meninggal dunia dan ratusan korban terluka. Mereka yang terluka dan meninggal dunia tidak hanya warga negara Indonesia, yang kebetulan lewat di depan ataupun bekerja di Kedutaan Australia, tapi juga beberapa warga negara asing.
Hal ini tentunya menjadi dasar pertimbangan para investor asing untuk melarikan diri ataupun mematikan usahanya di Indonesia dan pindah ke tempat yang lebih aman. Karena memang telah terbukti kurangnya rasa aman untuk tinggal di Indonesia. Kenyataannya pemboman di depan Kedutaan Australia bukanlah aksi pemboman yang pertama kali terjadi di Indonesia. Salahkah bila negara-negara tetangga mengeluarkan Travel Warning untuk Indonesia?
Dimanakah letak kesalahan mungkin terjadi? Apakah pihak intelijen kita kurang maksimal berkerja? Toh mereka juga hanya manusia biasa yang memiliki keterbatasan-keterbatasan. Ataukah kemudahan khalayak umum untuk mendapatkan bahan-bahan kimia sehingga dapat digunakan untuk maksud dan tujuan yang salah, maka dapat terjadi aksi pemboman ini. Kemanakah perginya moral dan belas kasih kita? Apa yang menjadi pemicu pemboman di depan Kedutaan Australia? Apakah pemboman itu terjadi karena direncanakan, ataukah itu hanya kecelakan - mungkin orang yang bawa bom itu adalah kimiawan yang sedang meracik bom baru untuk penelitiannya, mungkin saja kan? Terlalu banyak pertanyaan yang mungkin tidak dapat terjawab. Kita, atau mungkin saya tepatnya, mungkin tidak akan pernah tahu jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut.. Karena, mungkin, terlalu banyak pihak-pihak yang berkonspirasi dalam kejadiaan ini.
Satu hal yang pasti, kita, baik WNI ataupun WNA, adalah orang-orang yang beriman, berpendidikan, bermoral (ini asumsi saya loh ya). Jika memang dalam kehidupan berpolitik, ekonomi, sosial, budaya, dan HanKam, ada hal-hal yang mungkin untuk pihak-pihak tertentu tidak berkenan (dengan asumsi bahwa pemboman itu memang direncanakan), mengapa tidak dibicarakan secara baik-baik? Haruskah kita menggunakan kekerasan untuk memecahkan perbedaan, permasalahan? Yang mana pada akhirnya, kekerasan tersebut harus merebut nyawa ataupun melukai orang-orang yang tidak bersalah. Mengapa kita tidak saling menghormati satu sama lain, menghargai satu sama lain? Toh perbedaan akan selalu ada. Karena dengan perbedaan itulah kita bisa belajar menghormati dan menghargai orang lain.
Ada pepatah berkata “Hargai dan hormatilah orang lain, jika mau orang lain menghargai dan menghormati anda”. Bisakah anda membayangkan akan seperti apa dunia kita, jika kita bisa menerapkan pepatah itu dalam kehidupan sehari-hari? Mungkinkah aksi pemboman ini akan terjadi? Mungkin saja! Karena kemungkinan itu akan selalu ada.
Dengan terjadinya pemboman di depan Kedutaan Australia ini, marilah kita sama-sama mengintrospeksi diri. Apakah kita telah melakukan kesalahan kepada orang lain? Ataukah orang lain itu yang melakukan kesalahan ke kita? Menyalahkan orang lain memanglah mudah, tapi menemukan kebenaran akankah mudah? Mengutuk, menghujat adalah kegiatan yang sia-sia karena toh tidak akan menggembalikan apa yang sudah hilang dan hancur berantakan!
Maka dari itu, marilah kita bersama-sama mencoba mewujudkan rasa perdamaian dan persatuan dengan cara menentang kekerasan dalam bentuk apapun. PEACE!!!!!
Yang turut berduka,
Eka Enesstia Amelia
Penulis : Mahasiswi STIE Perbanas, yang masih sangat awam dengan dunia jurnalistik (baik dalam perolehan data ataupun cara penulisan). Mohon di ma’af kan apabila ada kata-kata yang tidak berkenan dan yang dengan tidak sengaja menyinggung pihak-pihak tertentu (yang merasa tersinggung!!!). Ass. Wr. Wb

0 Comments:
Post a Comment
<< Home